Misi Penting Drone Alap alap,Bagaimana Kesiapannya?

Tribunnews.com/Fitri Wulandari

Pesawat Udara Nirawak (Puna) Drone Alap Alap tipe PA-4 sedang dilakukan uji coba oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk pemetaan jalur kereta cepat Jakarta-Surabaya sepanjang Cirebon sampai dengan Tegal.
Pesawat Udara Nirawak (Puna) Alap-alap tipe PA-4 itu sendiri adalah salah satu dari beberapa jenis yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Drone ini dirancang untuk ‘surveillance’,agar mendapatkan informasi strategis dari lapangan,kata Bapak Unggul Priyatno selaku Pimpinan BPPT saat melakukan uji coba tersebut diBandara Cakrabuwana Cirebon beberapa waktu yang lalu.
Pak Unggul Priyatno juga mengatakan kemampuan drone ini juga bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan sipil seperti pemetaan untuk pembangunan.

Mengingat Kereta cepat Jakarta-Surabaya sebagai salah satu proyek pembangunan yang sangat penting yang hendak dikembangkan pemerintah,tentu membutuhkan kajian tepat, yang salah satunya melalui pemetaan akurat sepanjang rencana jalur kereta cepat tersebut.“Di jalur ini ternyata ada tikungan-tikungan yang cukup tajam yang perlu diperhitungkan dengan cermat, sehingga perlu pemetaan yang akurat untuk pengkajiannya. Kalau harus dipetakan melalui jalur darat akan butuh waktu lama, karenanya kita coba dengan drone.

Uji coba pemetaan jalur kereta cepat Jakarta-Surabaya pada bagian Cirebon sampai Tegal sejauh kurang lebih 86 kilometer, terbagi dalam 13 seksi yang dilakukan dalam dua hari,demikian yang dikatakan Wahyu Widodo Pandoe selaku Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT.Pemetaan tersebut dilakukan menggunakan UAV Alap-alap PA-4 yang mana dilengkapi kamera Sony Alpha6000 dengan resolusi 24 megapixels (6000×4000 pixles) seberat 344 gram. Kamera ini juga dilengkapi dengan lensa Sony E-Mount Lens 20 mm.Dari hasil pemetaan pada seksi Cirebon-Tegal, akan dibandingkan dengan hasil pemetaan dengan Lidar yang akan dilakukan BPPT minggu depan. Jika hasilnya baik maka teknik ini bisa disandingkan dengan Lidar namun dengan biaya yang jauh lebih murah.

Baca juga : Ganasnya Orion-E Drone Tempur Baru Rusia

Wahyu Widodo Pandoe selaku Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT mengatakan pula teknologi drone ini sudah masuk Tahapan Kesiapan Teknologi (Technology Readiness Level/TRL) 8-9 atau sudah siap diproduksi oleh industri. Drone ini juga akan dicoba dipasangi Ultra Lidar, sehingga akan semakin cepat digunakan untuk pemetaan, dilansir ANTARA, 15/7/2017.

Beberapa waktu lalu UAV Alap-alap yang memiliki bobot 30 kilogram dan mampu terbang hingga ketinggian 10.000 kaki dengan kecepatan maksimal 65 knot, juga telah diuji di Pangandaran dan berhasil menjelajah selama tujuh jam nonstop sejauh 150 km.

Reply